Parenting dan Silaturahmi Wali Santri Putri PP. Al-Muhajirin 3
Parenting dan Silaturahmi Wali Santri Putri PP. Al-Muhajirin 3
Menjadi orang tua dari seorang santri merupakan sebuah anugerah sekaligus amanah besar. Dalam rangka mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi antara pesantren, orang tua, dan santri, Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 kembali menggelar kegiatan Parenting dan Silaturahmi Wali Santri Putri dalam rangkaian agenda penjengukan santri.
Kegiatan parenting menjadi momentum bagi para wali santri untuk kembali merefleksikan dan memperbarui pemahaman mengenai pola asuh serta cara mendampingi tumbuh kembang anak, khususnya anak-anak yang sedang menempuh pendidikan di pesantren. Dalam kegiatan tersebut, para wali santri mendapatkan materi parenting bersama narasumber, Ibu Vera.

Pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Pondok pesantren mendidik dengan ilmu, keteladanan, dan pembiasaan, sementara orang tua memiliki peran penting dalam memberikan doa, perhatian, dukungan, dan kasih sayang yang tidak pernah terputus. Sinergi antara guru dan orang tua diharapkan mampu menjadi kekuatan dalam mendampingi perjuangan santri, baik dalam menuntut ilmu maupun dalam membentuk karakter.
Tausyiah Syaikhuna: Ilmu, Amal, dan Perjuangan Santri
Dalam rangkaian kegiatan penjengukan santri, Syaikhuna menyampaikan tausyiah yang sarat dengan nasihat mengenai ilmu, amal, kehidupan, serta pentingnya membangun karakter sejak dini.
Syaikhuna mengingatkan bahwa terdapat dua keadaan seseorang dalam berilmu. Pertama, seseorang memahami ilmu kemudian mengamalkannya sehingga ilmu tersebut menjadi ilmu yang bermanfaat. Kedua, seseorang memiliki ilmu tetapi tidak memahami atau tidak mengamalkannya, sehingga ilmu tersebut tidak memberikan manfaat dalam kehidupannya.

Ilmu yang bermanfaat bukan sekadar ilmu yang tersimpan dalam ingatan, melainkan ilmu yang dipahami, diamalkan, dan melahirkan rasa takut kepada Allah SWT. Oleh karena itu, santri tidak cukup hanya belajar dan menghafal, tetapi juga harus berusaha memahami serta mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam menjalankan agama, Syaikhuna juga mengingatkan pentingnya menempatkan segala sesuatu sesuai dengan kedudukannya. Perkara yang wajib harus didahulukan, kemudian sunnah, sedangkan adat atau kebiasaan hendaknya tetap diarahkan agar sesuai dengan nilai-nilai agama. Selain itu, kehidupan beragama juga harus dibangun di atas tiga hal utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan.
Mendengar, Melihat, dan Mempraktikkan
Dalam proses menuntut ilmu, kemampuan mendengar merupakan bagian penting. Seseorang dapat memiliki kemampuan berbicara karena banyak mendengar. Namun, mendengar saja tidak cukup. Seseorang akan memperoleh pemahaman yang lebih kuat ketika ia juga melihat, mengalami, dan mempraktikkan secara langsung apa yang dipelajarinya.
Karena itu, santri diharapkan tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga memperhatikan, melihat, memahami, dan mempraktikkan ilmu yang telah dipelajari. Proses inilah yang akan menjadikan ilmu lebih melekat dan memiliki manfaat dalam kehidupan.
Syaikhuna juga berpesan agar santri tidak mengabaikan perkara-perkara kecil. Seseorang tidak akan menjadi pribadi besar apabila terbiasa mengabaikan hal-hal sederhana. Kerapian ketika makan, menghabiskan makanan, merapikan tempat tidur setelah bangun, menjaga kebersihan, serta membiasakan diri hidup disiplin merupakan bagian dari pendidikan karakter.
Orang yang besar adalah orang yang mampu memberikan perhatian terhadap hal-hal kecil. Kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara terus-menerus akan membentuk karakter dan menjadi bekal penting dalam kehidupan.
Pesantren Mengajarkan Kehidupan dan Kemandirian
Pendidikan di pesantren tidak hanya berkaitan dengan akidah dan ibadah. Pesantren juga menjadi tempat bagi santri untuk belajar tentang kehidupan, kedisiplinan, kesabaran, keprihatinan, tanggung jawab, dan kemandirian.
Kehidupan di pesantren melatih santri untuk terbiasa menghadapi berbagai keadaan. Dengan belajar prihatin dan hidup sederhana selama di pesantren, diharapkan ketika kembali ke rumah maupun ketika terjun ke masyarakat, santri tidak mudah menyerah dan tidak mudah mengalami kesulitan dalam menghadapi kehidupan.
Syaikhuna juga menceritakan pengalaman kehidupan beliau yang sejak kecil telah ditempa oleh berbagai keterbatasan. Beliau pernah mengalami keadaan di mana hanya dapat makan satu kali dalam sehari. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses perjuangan yang membentuk keteguhan dan kemandirian.
Hal tersebut sejalan dengan nasihat Imam Syafi'i bahwa keberhasilan tidak dapat diraih tanpa perjuangan dan kesungguhan.
Masa Muda, Cita-Cita, dan Masa Depan
Masa muda merupakan masa penting dalam membentuk masa depan. Salah satu hal yang dapat menghambat perkembangan seseorang adalah ketika masa muda terlalu dimanjakan dan tidak dibiasakan menghadapi tantangan.
Kesuksesan tidak semata-mata ditentukan oleh uang. Kesuksesan membutuhkan kesungguhan, cita-cita, serta semangat untuk terus berjuang. Dalam Ta'limul Muta'allim terdapat sebuah ungkapan:
الطير يطير بجناحيه، والمرء يطير بهمته
Burung dapat terbang dengan kedua sayapnya, sedangkan manusia dapat terbang dengan cita-cita dan semangatnya.
Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa seorang santri harus memiliki tujuan dan cita-cita yang jelas. Cita-cita tersebut tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan duniawi, tetapi juga bagaimana ilmu yang diperoleh dapat membawa keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Beberapa gambaran cita-cita yang dapat menjadi motivasi bagi santri antara lain membahagiakan kedua orang tua, mempersiapkan kehidupan berkeluarga, menjadi pribadi yang dikenal karena kebaikannya, mampu membaca dan memahami ilmu agama, serta membangun keluarga bersama pasangan yang memiliki visi dan nilai kehidupan yang baik.
Pada akhirnya, santri hendaknya tidak hanya mengejar ilmu, tetapi juga memahami dan mengamalkannya, membiasakan diri dengan kebaikan, memperhatikan perkara-perkara kecil, serta memiliki cita-cita dan kesungguhan. Masa depan dibentuk dari kebiasaan dan perjuangan yang dilakukan sejak sekarang.
Sambutan Ibu Pengasuh PP. Al-Muhajirin 3
Dalam kesempatan tersebut, Ibu Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 menyampaikan rasa syukur karena dapat kembali bersilaturahmi bersama para wali santri. Beliau berharap kegiatan penjengukan dapat menjadi momentum untuk terus memperkuat sinergi antara guru, orang tua, dan anak-anak.

Menurut beliau, keberhasilan pendidikan anak merupakan hasil dari kerja sama berbagai pihak. Karena itu, sinergi antara pesantren dan wali santri perlu terus dijaga demi mengantarkan anak-anak agar memperoleh kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, pendidikan karakter menjadi salah satu perhatian penting. Karakter tidak cukup dibentuk melalui hafalan atau teori semata, tetapi perlu ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari. Di pesantren, nilai-nilai karakter ditanamkan mulai dari santri bangun tidur hingga kembali tidur, melalui kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, adab, dan berbagai aktivitas keseharian.
Ibu Pengasuh juga mengingatkan bahwa keberhasilan anak tidak semata-mata dapat dilihat dari pencapaian akademik. Sikap bersyukur dan tawakal juga merupakan nilai penting dalam membentuk pribadi yang berkarakter. Karena itu, beliau menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh guru, khususnya Syaikhuna, yang terus membimbing dan menanamkan nilai-nilai karakter kepada para santri.
Harapannya, seluruh proses pendidikan yang dijalani para santri dapat menjadi bekal untuk meraih kesuksesan dan kehidupan yang baik di masa mendatang.
Selain itu, disampaikan pula bahwa Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 telah melaksanakan kegiatan safari dakwah dan akan terus berupaya melanjutkan kegiatan tersebut. Safari dakwah diharapkan tidak hanya berkembang di Indonesia, tetapi juga dapat terus meluas hingga ke berbagai penjuru dunia.
Bersinergi untuk Pendidikan yang Berkelanjutan
Kegiatan Parenting dan Silaturahmi Wali Santri menjadi pengingat bahwa pendidikan anak merupakan perjalanan yang membutuhkan kebersamaan. Pesantren memberikan pendidikan dan pembiasaan, guru memberikan ilmu dan keteladanan, sementara orang tua memberikan doa, perhatian, dan dukungan.
Melalui sinergi yang kuat antara guru, wali santri, dan anak-anak, diharapkan setiap santri dapat tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, beriman, berakhlak, mandiri, memiliki cita-cita, serta mampu mengamalkan ilmu dalam kehidupan.

Semoga setiap ilmu dan nasihat yang diperoleh dalam kegiatan ini dapat menjadi bekal bagi para wali santri dalam mendampingi putra-putrinya, serta menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mengantarkan generasi yang sukses di dunia dan mendapatkan kebaikan di akhirat.
Belum Ada Komentar