Air Mata Haru Mewarnai Wisuda Tahfizh dan Tahsin Angkatan Ke-5
PURWAKARTA – Lantunan ayat suci Al-Qur'an dan selawat yang menggema syahdu memecah keheningan Sabtu pagi (16/5) di kompleks Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 Purwakarta. Di atas panggung utama yang berdiri megah, sukses digelar prosesi Wisuda Tahsin dan Tahfizh Al-Qur'an Metode Qiroati Angkatan Ke-5. Acara yang berlangsung khidmat sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini menjadi tonggak sejarah baru, sekaligus bukti nyata ketuntasan fase pembelajaran Al-Qur'an bagi para santri penjaga kalam ilahi.
Rangkaian agenda akbar ini diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, disusul pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan selawat oleh Ustadz Amirudin yang menggetarkan jiwa. Semangat nasionalisme dan kecintaan pada almamater kemudian membahana saat seluruh hadirin serentak berdiri, menyanyikan Mars Syubanul Wathon dan Hymne Al-Muhajirin.

Suasana emosional mulai menyeruak saat memasuki prosesi Kirab Wisudawan dan Wisudawati. Dengan langkah tegap dan wajah berseri penuh takzim, para penghafal Al-Qur'an masa depan ini berjalan beriringan memasuki panggung utama. Dalam laporannya, Ketua Panitia Ustadz Muhammad Abdul Yamin menguraikan perjalanan panjang, peluh, dan perjuangan para santri hingga berhasil mencapai titik wisuda angkatan kelima ini.
Lima Pesan Strategis Syaikhuna untuk Peradaban Qur'ani
Puncak kekhidmatan acara diisi oleh Tausyiah Utama dari Pimpinan Pusat Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A. Di hadapan ratusan pasang mata yang memadati pelataran pesantren, Syaikhuna menitipkan lima pesan strategis sebagai kompas kehidupan bagi para wisudawan.
Pertama, Syaikhuna mengingatkan para wisudawan untuk memiliki himmah atau cita-cita yang tinggi. Kelulusan ini bukanlah akhir, melainkan gerbang awal bagi mereka untuk menumbuhkan tekad yang membaja agar menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat. Kedua, beliau menekankan pentingnya menjaga hafalan secara dawam. Menghafal Al-Qur'an adalah amanah seumur hidup yang wajib dirawat dan diulang (muraja'ah) secara istiqamah tanpa batas.
Selanjutnya, pada poin ketiga, beliau mendorong para santri untuk terus mengembangkan ilmu dengan menguasai bahasa Arab dan kitab salaf. Tahsin dan tahfizh harus dijadikan fondasi awal untuk mendalami bahasa Arab, guna membuka gerbang dalam mengkaji kitab-kitab ulama terdahulu (kitab kuning) yang mutabar. Keempat, Syaikhuna berharap mereka tumbuh menjadi generasi saleh dan salehah yang mampu menyeimbangkan antara kelancaran hafalan kognitif dengan keluhuran akhlak dalam kehidupan sosial. Sebagai penutup tausyiahnya, beliau menegaskan bahwa Al-Qur'an yang dijaga dengan ikhlas akan menjadi syarat mutlak hadirnya pertolongan atau syafaat yang menyelamatkan mereka di akhirat kelak.
Sambutan Pengasuh yang Penuh Makna
Suasana semakin larut dalam kekhusyukan saat Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3, Hj. Kiki Zakiah Nuraisyah, S.S.I., M.H., menyampaikan sambutannya di hadapan Ketua MUI Kabupaten Purwakarta, para tokoh, dan seluruh hadirin. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh wisudawan serta ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para wali santri yang telah hadir memberikan dukungan penuh.
Hj. Kiki Zakiah menjelaskan bahwa wisuda tahunan ini merupakan ikhtiar konsisten pesantren dalam melestarikan tradisi penghafalan Al-Qur’an. Beliau menegaskan bahwa di tengah kurikulum pendidikan umum, keberadaan program Tahsin dan Tahfizh ini bertindak sebagai "paku bumi" sekaligus fondasi utama yang menguatkan arah pendidikan lembaga.
Pengasuh juga mengingatkan esensi spiritual bahwa Al-Qur'an adalah obat bagi segala penyakit lahir batin sekaligus rahmat bagi alam semesta. Beliau meyakini, ketika Al-Qur'an sudah berada di hati seorang hamba, Allah akan memudahkan segala jalan menuju keinginan mulia.
Melalui pegangan Al-Qur'an yang kokoh, seorang hamba akan mempuyai daya tahan untuk melintasi tantangan segala zaman. Nilai-nilai Al-Qur'an akan selalu relevan, menjadi petunjuk, serta kompas kehidupan yang menyelamatkan di dunia maupun di akhirat.
Apresiasi Tinggi dari Tokoh Agama dan Pemerintah
Keabsahan metodologi membaca Al-Qur'an ini pun ditegaskan langsung oleh Pembina Metodologi Qiroati Cabang Karawang, KH. Khaeruddin Hasbullah (Dewan Syuro). Beliau menggarisbawahi orisinalitas metode Qiroati di Indonesia yang memiliki sejarah panjang. KH. Khaeruddin menegaskan bahwa metode Qiroati lahir sebagai pelopor utama metode membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, bahkan sejarah mencatat metode ini telah lahir sekitar 30 tahun sebelum adanya metode Iqro.
Dukungan formal dari pemerintah daerah turut hadir melalui perwakilan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, H. Asep Rahmatudin, M.Pd. Beliau mengapresiasi Ponpes Al-Muhajirin 3 yang konsisten memadukan pendidikan formal dan pesantren demi mencerdaskan bangsa. Ia juga berharap Al-Qur'an benar-benar menjadi pedoman hidup para santri agar mereka tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang membawa Indonesia menuju peradaban Emas.
Sesi Demostrasi, Sungkeman, dan Isak Tangis Orang Tua
Bukan sekadar seremonial, para santri diuji secara publik melalui Demonstrasi Uraian Gharib Tahsin Al-Qur'an Metode Qiroati. Di hadapan para asatidz dan wali santri, para wisudawan dengan luar biasa mampu menguraikan hukum tajwid dan ayat-ayat gharib (khusus) secara lancar, fasih, dan presisi.
Sebelum prosesi wisuda, suasana pelataran pesantren mendadak berubah haru biru saat sesi sungkeman dimulai. Isak tangis para orang tua pecah berderai saat putra-putri mereka bersimpuh di pangkuan, memohon rida dan mengucapkan terima kasih atas segala doa yang mengalir selama ini. Suasana emosional ini pun dipertegas melalui sambutan perwakilan wali santri yang menyampaikan rasa takzim dan terima kasih terdalam kepada para guru yang telah mendidik anak-anak mereka dengan penuh kesabaran.
Detik-detik puncaknya, satu per satu santri dipanggil ke atas panggung untuk menerima penghargaan dan penyematan tanda kelulusan. Air mata kebahagiaan orang tua kembali tumpah menyaksikan buah hati mereka dimuliakan di atas panggung bersama Al-Qur'an. Agenda akbar ini akhirnya ditutup dengan doa bersama yang khusyuk, memohon keberkahan atas ilmu yang diraih, serta diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai dokumen bersejarah peradaban Qur'ani di Kabupaten Purwakarta.



Belum Ada Komentar